Aman Dari Banjir Bandang, Titik Nol Sungai Brantas Berada Di Arboretum

  • Whatsapp
Manager Utama Regional l Perum Jasa Tirta l, Viari Djajasinha saat di Arboretum Sumber Brantas.

Kota Batu, inspirator.co.id – Pesona taman konservasi Arboretum yang berada di Desa Sumber Brantas, sempat teralihkan karena pandemi Covid-19. Terlebih peristiwa banjir bandang yang menimpa kawasan Bumiaji, Kota Batu, beberapa waktu lalu, membuat Arboretum lepas dari perhatian.

Meski peristiwa banjar bandang tersebut cukup dahsyat hingga menimbulkan korban jiwa. Ternyata keberlangsungan Arboretum di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, tidak terpengaruh adanya banjir bandang tersebut.

Muat Lebih

Hal ini diungkapkan Manager Utama Regional l Perum Jasa Tirta l, Viari Djajasinha, bahwa banjir bandang itu tak mempengaruhi keberlangsungan Arboretum. Peristiwa itu berbeda dengan banjir bandang yang melanda Kota Batu pada 17 tahun lalu.

“Banjir bandang tahun 2004 lalu lebih dahsyat dibanding 4 November kemarin. Saat itu ada lima jembatan putus. Banyak kayu gelondongan berdiameter lebih dari 1 meter hanyut terbawa banjir bandang. Selain itu dampaknya juga menimpa sumber mata air Arboretum,” ungkap Viari, pada  wartawan, Jumat (19/11).

Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa debit sumber mata air Arboretum merupakan salah satu yang paling konsisten. Mengalir setiap tahun, baik musim hujan maupun kemarau. Walaupun ada pengurangan debit saat musim kemarau, aliran airnya terus keluar.

“Diperkirakan, saat musim kemarau air yang mengalir rata-rata 1,5 liter per detik. Sedang saat musim hujan mencapai 3 liter perdetik. Memang aliran airnya tampak kecil. Tetapi tidak pernah berhenti sepanjang tahun,” paparnya.

Tampak seorang wartawan sedang menikmati kesegaran sumber mata air di Arboretum Desa Sumber Brantas.

Seiring hal itu, pihak Jasa Tirta akan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk penanganan jangka panjang agar banjir bandang tersebut tidak terulang lagi. Langkah tersebut diantaranya melakukan konservasi dan pelestarian sumber mata air.

“Ada tiga tahap penanganan yang akan dilakukan Perum Jasa Tirta l. Mulai tahapan jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Namun, yang paling penting adalah melakukan konservasi lingkungan dan sumber mata air,” tegasnya.

Viari menjabarkan, untuk penanganan jangka pendek saat ini sudah selesai dilakukan. Yakni, membersihkan aliran sungai dari material bekas banjir bandang. Hal ini dilakukan berbagai komponen, mulai jajaran pemerintahan hingga relawan.

Selanjutnya, untuk penanganan jangka menengah dan panjang, pihaknya akan melalukan perbaikan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas. Dengan harapan kejadian serupa tak terulang lagi.

“Sebenarnya upaya konservasi sudah kami lakukan. Total hingga triwulan ketiga tahun 2021 ini kami telah menanam 150 ribu pohon di sepanjang DAS Brantas. Kami menargetkan hingga akhir tahun ini bisa menanam 200 pohon,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan jika kawasan Desa Bulukerto saat ini menjadi daerah terparah akibat bencana banjir bandang. Ia menyebutkan, kawasan tersebut memang menjadi daerah rawan bencana banjir. Berdasarkan letak topografinya, Desa Bulukerto berada di kawasan lereng yang cukup curam.

“Di kawasan itu cakupan airnya rendah. Karena dipengaruhi perubahan lahan yang cukup signifikan. Yang mulanya tanaman tegakan menjadi sayuran,” ungkapnya.

Untuk diketahui, sumber mata air Arboretum yang berada di Sumber Brantas juga disebut sebagai titik nol sungai Brantas yang hampir 25 persen mengaliri sungai di Jawa Timur. (im)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *