Belum Tuntas Kasus Pendiri Sekolah SPI, Kini Kepala Asrama Dilaporkan Ke Polres Batu

  • Whatsapp
REPDEM bersama Pemuda Pancasila Kota Batu tunjukan Bukti laporan Kepala Asrama SPI Dilaporkan Ke Polres Batu, Selasa (16/11/21).

inspirator.co.id – Belum tuntasnya persoalan pendiri sekolah SPI Kota Batu terkait dugaan pelecehan seksual, kini kembali muncul persoalan yang menimpa Kepala Asrama sekolah SPI, Ahmad Ahyat alias UPA. Kasus baru ini telah dilaporkan ke Polres Batu oleh Ketua LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Kota Batu, Fuad Dwiyono pada Selasa (16/11/21).

Pelaporan yang dilakukan didasari atas dugaan terjadinya kekerasan pada siswa SPI yang turut hadir memberikan kesaksian dengan inisial AM. Diungkapkan Fuad, kronologi terjadi pada bulan Mei lalu, saat itu korban dipanggil dan dimarahi didepan banyak siswa karena dianggap membocorkan suatu rahasia.

Muat Lebih

“Tak hanya dimarahi, dia juga dipukuli hingga menimbulkan bekas luka permanen di matanya. Kejadian Mei dihadapan para siswa dan juga Kepala Sekolah. Waktu itu kebetulan, alat recorder yang habis dibuat kegiatan pas nyala dan otomatis merekam suara tindakan tersebut,” beber Fuad, Selasa (16/11/21).

Disamping itu, Fuad juga menjabarkan, bahwa pihaknya sudah melakukan visum sesuai petunjuk dari penyidik Polres Batu. Ia juga menilai, dugaan kuat banyak terjadi aksi kekerasan di sekolah SPI. Hal ini, kata Fuad, banyak alumni yang mengatakan dan mengakui adanya kekerasan di sekolah tersebut.

“Waktu itu Mei kan juga bertepatan dengan mencuatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh JE itu,” cetusnya.

Disinggung terkait pelaporan yang dilakukannya secara terpisah dari kasus JE tersebut? Fuad kembali menjelaskan, bahwa pihaknya baru mengetahui munculnya peristiwa kekerasan yang menimpa pada siswa.

“Baru dilaporkan sekarang karena ya baru ketauan, baru ada yang melapor. Termasuk akhirnya bukti-buktinya semua baru bermunculan sekarang sejak kami buka pos pengaduan dari LPA,” terang dia.

Meski demikian, Fuad juga memiliki pandangan baik terhadap sekolah yang dinilai bagus tersebut. Akan tetapi, dirinya sangat menyayangkan adanya kejadian- kejadian yang muncul di sekolah SPI.

“Saya pikir secara praktek pendidikan bagus ya, karena diajarkan bekerja sekaligus belajar. Namun ternyata faktanya mereka dipekerjakan eksploitasi secara tak manusiawi hingga 24 jam, dan hanya digaji 500 ribu sebulan,” bebernya.

Seiring hal itu, Fuad kembali mengungkapkan bakal melakukan hearing dengan DPRD Kota Batu, terutama dengan Komisi A. selain itu, langkah tersebut akan dilakukan bersama- sama dengan Pemuda Pancasila MPC Kota Batu, dan Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM), maupun dengan masyarakat lainnya guna mengawal penuntasan kasus ini.

“Bukan soal sekolahnya, prestasinya apa gak masalah. Tapi kita kan fokus ke kekerasan dan pelecehan seksual ini yang tidak bisa dibiarkan. Sistemnya harus diubah, bukan harus ditutup,” serunya.

Ia menambahkan, saat ini ada dua anak yang dihadirkan yaitu 1 sebagai korban, dan satunya sebagai saksi. Laporan tersebut tentang peristiwa pidana Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002  tentang perlindungan anak, pasal 80.

“Untuk sementara kami tidak bisa menyebutkan identitas korban dan saksi secara detail. Ini demi keamanan anak- anak ini. Ya doakan semoga nurani mereka terbuka, dan keadilan bisa ditegakkan,” tutupnya. (im)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *