Dua Desa Bersatu Menyikapi Persoalan TPA Tlekung, Keluhan Warga Mencuat Disini

  • Whatsapp
Kepala Desa Tlekung, Mardi, dan Kepala Desa Junrejo, Andi Faisal Hasan saat mengelar pertemuan.
banner 468x60

Kota Batu, inspirator.co.id – Dimusim penghujan dengan intensitas yang cukup tinggi saat ini, telah mengungkap beberapa persoalan yang bersumber dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tlekung, yang berada di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dampak yang sering kali dirasakan warga sekitar berupa bau sampah yang cukup menyengat yang dinilai bisa menganggu pernafasan.

Tak cukup disitu saja, pencemaran lingkungan yang terjadi merambah ke persoalan tambahan yakni, adanya temuan air lindi yang mencemari sungai. Hal inipun mencuat ketika dikedapati ambrolnya bangunan penahan buangan sampah. Seiring hal ini, aktifis lingkungan dan masyarakat sekitar berupaya melakukan uji kualitas air di Laboratorium lingkungan (PJT 1).

Muat Lebih

Menyikapi persoalan itu, dua kepala desa yakni Kepala Desa Tlekung, Mardi, dan Kepala Desa Junrejo, Andi Faisal Hasan, mengelar pertemuan bersama anggota BPD, tokoh masyarakat, serta aktifis lingkungan, untuk melakukan dialog bersama dalam perumusan menyikapi persoalan yang tak kunjung selesai tersebut.

Dalam dialog santai yang turut dihadiri anggota Babinsa serta Babinkamtibmas ini, Kepala Desa Tlekung, Mardi mengungkapkan, bahwa pihaknya sangat menyayangkan keseriusan Pemerintah Kota Batu, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dalam menanggani persoalan sampah yang ada di desanya. Selain itu, timbal balik dari penempatan TPA yang ada didesanya selama ini, belum kunjung ada realisasi pembangunan SMP Negeri 7 di Desa Tlekung.

“Kalau dulu seingat saya, dalam penempatan TPA di Desa Tlekung, ngomongnya tidak sebatas pembuangan akhir. Akan tetapi juga sebagai tempat pengolahan. Namun saat ini hal itu tidak dilakukan, yang dilakukan sebatas penumpukan dan penumpukan. Ya otomatis, lama kelamaan lahannya tidak akan cukup karena tidak ada pengolahan,” kata Mardi mengawali dialog, Jumat malam (26/2/21).

Oleh sebab itu, lanjut Mardi, dua desa ini sepakat melakukan musyawarah dengan dialog santai untuk menentukan langkah tegas yang bakal diambil dalam menyikapi persoalan tersebut. Ia meminta dalam musyawarah tersebut, masyarakat maupun element lainnya untuk bisa mencurahkan segala keluhan maupun uneg- uneg terkait TPA Tlekung.

“ Monggo Bapak-Ibu untuk menyampaikan segala aspirasi maupun uneg-unegnya. Ini diskusi sambil santai, jadi tak perlu ada yang ditakutkan. Biar kedepannya tidak terjadi salah faham diantara kita bersama dalam mencari solusi terkait TPA Tlekung. Biar pemerintah kota juga tahu kondisi dibawah yang sebenarnya,” seru Mardi dalam sambutannya.

Selain meminta adanya pembangunan SMP Negeri 7 di Desa Tlekung sebagai bentuk kompensasi keberadaan TPA di desanya, Mardi juga mengungkapkan, bahwa dirinya pernah diajak ke suatu daerah oleh pihak Pemkot Batu untuk melihat alat pengolahan sampah yang dinilai sudah jalan. Akan tetapi, dari hasil kunjungan itu tidak pernah ada realisasi di TPA Tlekung.

“Ya ini seperti omong kosong yang dilakukan dinas saat itu. Dulu saya pernah diajak kunjungan ke suatu daerah untuk melihat alat- alat pengolahan sampah yang ada disana. Saya fikir hal itu akan direalisasikan disini. Namun hingga saat ini, alat itu tidak pernah ada, ya ini namanya omong kosong,” ucap Mardi.

Senada, Kepala Desa Junrejo, Andi Faisal Hasan juga mengungkapkan sudah sering kali membahas persoalan sampah. Namun respon pemerintah kota sangat kurang greget. Hingga akhirnya muncul persoalan air lindi atau limbah cair yang mencemari sungai Sabrang di wilayah Desa Junrejo. Ia menyebut, hal itu telah menjadi keluhan warga yang kemudian ditujukan ke pihak desa.

“Kami pun akhirnya melaporkan secara bersurat kepada camat setempat, dan Wali Kota, serta DLH Provinsi Jatim. Dari laporan ini, mereka juga memberikan tanggapan. Namun progresnya hingga saat ini belum keliatan. Oleh karena itu, Kepala Desa Junrejo dan Desa Tlekung melakukan jagongan (musyawarah) bareng terkait persoalan yang dihadapi, khususnya di dua desa ini,” terang Faisal.

Faisal pun menjelaskan terjadinya pencemaran lingkungan yang berdampak bagi masyarakat yang berada di Desa Tlekung dan Desa Junrejo. Ia menyebutkan, Desa Tlekung terdampak bau yang tak sedap, sedangkan Desa Junrejo terdampak air lindi.

“Monggo dulur- dulur diskusi bareng terkait hal ini, biar semuanya tidak terjadi kesalahpahaman bagi masyarakat yang ada di dua desa ini. Upaya kita ini tidak sebatas persoalan saat ini saja, namun jangka panjangnya seperti apa?, ini demi anak cucu kita bersama nantinya,” tegas Faisal.

Dalam forum ini pun juga mencuat akan dampak panjang yang disebabkan oleh air lindi jika tidak segera ditangani secara serius. Sebab, dari hasil lab yang dilakukan terdapat kandungan- kandungan yang berbahaya bagi manusia. Apalagi sampai mencemari sumber mata air yang diminum manusia yang nantinya bisa menimbulkan penyakit idiot dan lainnya. Disebutkan, ada tujuh parameter dari hasil lab yang telah dilakukan.

“Dari air lindi itu sendiri terdapat kandungan logam berat yang dihasilkan dari sampah di TPA, ada raksa, tembaga, dan seng. Kalau lindi sampai mencemari sumber mata air yang diminum ini sangat bahaya bagi kesehatan. Sementara air sungai yang tercemar air lindi, dan dibuat mengaliri lahan pertanian juga sudah ada dampaknya. Petani pun mulai merasakan gatal- gatal jika tidak memakai sepatu saat mengaliri lahannya,” cetus salah satu anggota BPD dalam forum tersebut.

Selanjutnya, dari pertemuan ini akan dilakukan pertemuan kembali untuk melakukan pembahasan secara spesifik demi merumuskan langkah- langkah yang akan diambil untuk menyikapi persoalan di TPA Tlekung. Perlu disampaikan, dalam forum yang dilakukan secara santai tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan covid-19. (im) 

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *