Hilangnya Ratusan Sumber Mata Air Membuat Dirut PDAM Kota Batu Kwatir ? Ini langkah Yang Diambil

  • Whatsapp
PDAM Among Tirto Kota Batu gelar musyawarah untuk selamatkan sumber mata air, Jumat malam (2/9/2022).

Kota Batu, inspirator.co.id – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Among Tirto Kota Batu mencatat sekitar 111 sumber mata air yang ada di wilayah Kota Batu. Meski demikian adanya, Direktur PDAM Kota Batu, Edi Sunaedi mengaku sangat kwatir akan keberadaan sumber mata air tersebut, apakah masih eksis keberadaannya, ataukah ada yang mengalami penurunan debit mata air.

Seiring hal itu, Edi (sapaan akrabnya red.) telah melakukan kajian kajian dan melibatkan banyak pihak untuk mengantisipasi persoalan kekurangan kebutuhan air di Kota Batu kedepannya, atau dalam waktu lima hingga sepuluh tahun yang akan datang.

Muat Lebih

“ Di Kota Batu tiap tahun sumber air berkurang debitnya. Ada sebanyak 111 titik sumber air di batu yang harus diuji bersama sama dilapangan, apakah benar sampai hari ini masih bertahan sejumlah 111 titik sumber air. Kalau tidak apa penyebabnya,” cetusnya, Jumat malam (2/9/22).

Edi memaparkan, pihak PDAM Among Tirto Kota Batu hanya mengelola 6 titik sumber mata air. Dari enam titik ini, pihaknya terus rutin melakukan kajian, apakah setiap tahunnya masih bertahan atau mengalami penurunan debit air. Hal ini pun telah menjadi kosentrasi khusus bagi PDAM Kota Batu.

Meski demikian, pihaknya juga ingin memastikan keberadaan 111 sumber mata air yang ada di Kota Batu riil (nyata) adanya. Seiring hal itu, pihaknya menggelar musyawarah bersama, dengan melibatkan para tokoh, baik tokoh adat, tokoh agama, hingga kepala desa di Aula lantai dua PDAM Kota Batu, Jumat malam (2/9/22).

“Giat ini dalam rangka untuk kesadaran masyarakat, dalam menjaga ekosistem dilingkungan kita. Terkait malam ini musyawarah untuk menemukan bentuk kegiatannya seperti apa?,dan menurut para tokoh  tokoh adat, dan para budayawan di Batu juga seperti apa. Langkah langkah ini untuk kita bergerak bersama, supaya tidak ada kesalahan hari, termasuk riwayat air, dan sebagainya agar tidak salah,” bebernya.

Ia menjabarkan telah menemukan titiknya. Selanjutnya bakal segera dilakukan pendalaman kegiatan serta ingin melihat sejauh mana keterlibatan masyarakat, dan keterlibatan desa. Ia mengaku telah mendapat banyak masukan untuk menyempurnakan program yang bakal digelar secepatnya.

“Makanya kita mengundang para tokoh ulama, tokoh adat, beberapa Kades atau Lurah, anggota dewan ketua ormas, termasuk Kepala Dinas Pariwisata dan DLH. Alhamdulillah Kapolres Batu, Bapak Oskar juga hadir malam ini. Kita minta masukan dan sebagainya malam ini. Ini pertama kali kita melakukan, dan belum pernah kolaborasi dengan seluruh warga masyarakat Kota Batu, dan para lembaga – lembaga adat di Batu,” ungkapnya.

Selanjutnya, lanjut Edi, pihaknya akan melakukan penyempurnaan yang sudah disepakati bersama. Hal inipun juga menjadi pemantik semangat bersama, untuk menjadikan orang Kota Batu serentak sadar bersama sama untuk menyelamatkan sumber mata air.

“Dengan bentuk ini akan diawali dengan kegiatan pada 11 hingga 12 September 2022 mendatang. Tadi menurut lembaga adat, hitungan hari baik, ketemunya pada Minggu Pahing. Terkait hari memang dipasrahkan pada sesepuh yang paham hari. Sedangkan pelaksanaanya dilakukan di bulan Sapar (hitungan jawa red.) sesuai petunjuk tokoh adat, ada bulan purnama yang bisa menolak balak,” terang dia.

Ia kembali menegaskan, untuk meminta keberkahan air di Kota Batu memintanya tetap kepada Allah SWT. Dari masukan tokoh adat tersebut, merupakan budaya jawa yang memang harus di uri uri atau dijaga, khususnya di Kota Batu.

“Dan itu kita amini semua, karena ini budaya jawa. Bukannya kita syirik dan mempercayai diluar kekuasaan Allah SWT. kembali lagi, karena ini budaya lokal yang harus diuri uri, dan kita lakukan di Kota Batu,” ujarnya.

Disamping itu, Edi juga menceritakan bentuk kegiatan yang nantinya akan mengambil dari 24 desa/kelurahan se Kota Batu. Prosesnya akan mengambil sumber air dengan kendi, dijadikan satu pada tujuh titik kendi untuk dibawa ke Candi Songgoriti, dan ke Wihara. Kemudian akan ditaruh di Kantor PDAM Kota Batu.

“Itu, sebagai simbul mengerucut pada 24 desa dan kelurahan, sebagai bentuk doa bersama – sama. Tujuannya adalah  bagaimana kita berdoa bersama agar sumber mata air di Kota Batu tidak hilang. Nanti kita berdoa bersama, melibatkan semua agama untuk berdoa, termasuk melibatkan pemangku adat kejawen,” tandasnya.

Untuk informasi, giat detail acara akan berlangsung pada 12 September, di Sumber Dandang, Desa  Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Untuk diketahui, sebelumnya pihak PDAM Kota Batu sudah pernah melakukan giat selamatan sumber, gerakan penghijauan.

Selain itu, PDAM Kota Batu juga membuat sumur sumur resapan, serta membuat lubang biopori yang dinilai mampu meningkatkan daya resap air hujan kedalam tanah. Selain bisa mengurasi resiko banjir akibat meluapnya air hujan, teknologi ini juga mampu meningkatkan jumlah cadangan air bersih didalam tanah. (im)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *