HUT Kota Batu Ke 20 Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit Lakon Tumuruning Wahyu Sandang Pangan

  • Whatsapp
Pagelaran Wayang Kulit menjadi malam puncak kegiatan HUT Kota Batu ke 20, Minggu (17/10/21).

Kota Batu, inspirator.co.id – Pagelaran wayang kulit dengan cerita ‘Tumuruning Wahyu Sandhang Pangan (Dewi Sri Boyong)’ menjadi malam puncak HUT ke 20 Kota Batu. Dalang Ki Puput Eko Saputro asal Kota Batu yang membawa lakon Dewi Sri Boyong telah mengambarkan kondisi Kota Batu dan Indonesia saat ini.

Dari alur cerita yang berlangsung 5 jam ini, juga terkandung harapan agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan masyarakat selalu diberkahi kesehatan, dan sandang pangan yang melimpah. Pagelaran wayang kulit yang digelar di rumah dinas Wali Kota Batu, Minggu (18/10) malam dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan. Sedangkan masyarakat yang ingin menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut bisa menontonya secara langsung di stasiun tv.

Muat Lebih

Diawal pagelaran wayang kulit, Ketua Panitia HUT ke-20 Kota Batu, Onny Ardianto, menyampaikan bahwa peringatan tahun ini mengambil tema ‘Bangkit Bersama, Peduli Sesama, untuk Kota Batu Berjaya’. Disebutnya, dalam rangkaian perayaan digelar berbagai kegiatan mulai penyaluran bansos, pameran, launching inovasi, upacara, hingga gelaran wayang kulit.

“Tema HUT Kota Batu kali ini mempunyai makna dan harapan bahwa di usia yang ke 20 tahun ini, tentunya kita semua berharap Kota Batu dapat bangkit kembali. Besar harapan kami, dengan berbagai rangakaian kegiatan bisa lebih memberi semangat kepada masyarakat dan Pemerintah Kota Batu untuk bangkit dan peduli kepada sesama sesuai dengan tema peringatan Hari Jadi Ke-20 Kota Batu yaitu Bangkit Bersama, Peduli Sesama untuk Kota Batu Berjaya,” terang Onny yang juga Kepala Diskominfo Kota Batu.

Wali Kota Batu, Hj Dewanti Rumpoko saat memberikan sambutan.

Wali Kota Batu, Dra. Dewanti Rumpoko M.Si menyampaikan bahwa pemilihan gelaran wayang kulit di puncak acara karena pihaknya ingin tetap melestarikan budaya Jawa. Selain itu dalam pewayangan selalu menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Bahkan pertunjukkan tersebut bisa menjadi acuan pertunjukkan seni budaya untuk bisa kembali digelar di Kota Batu di tengah pandemi Covid-19, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Melalui wayang kulit dari cerita yang dibawakan selalu banyak unsur edukasi kepada masyarakat dan melestarikan budaya kita. Ini yang ingin kami tekankan, sehingga tak hanya seremoni saja. Semoga dengan berbagai kegiatan yang digelar dengan sederhana seperti pameran, launching inovasi dan bantuan sosial yang dilaksanakan bisa mewujudkan spirit HUT Kota Batu Bangkit Bersama, Peduli Sesama, untuk Kota Batu Berjaya,” harap wali kota yang akrab disapa Bude.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan jika pagelaran wayang kulit merupakan agenda wajib dalam rangkaian hari jadi Kota Batu. Wayang kulit merupakan salah satu wujud dari pada aktualisasi kegiatan di sektor wisata.

“Kegiatan wayang kulit yang digelar menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengembangan kebudayaan Kota Batu. Kegiatan serupa akan terus kita tingkatkan agar nanti bisa menjadi daya tarik wisata,” ungkap  Arief.

Dia menambahkan, kesenian dan kebudayaan yang ditampilkan juga menjadi bagian dari pendukung pariwisata di Kota Batu. Pasalnya Kota Batu memiliki keinginan menjadi salah satu barometer destinasi budaya di Jawa Timur dengan penguatan wayang kulit dan orang.

“Kesenian dan kebudayaan ini sangat pas bila setiap agenda di Kota Batu selalu ditampilkan dan mampu menjadi daya tarik wisata. Bahkan dalam kegiatan ini kami mengedepankan prokes ketat seperti harus swab dan menunjukkan kartu vaksin. Sehingga bisa menjadi contoh penerapan pertunjukkan seni budaya di Kota Batu saat pandemi,” tutupnya. (im)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *