Ketua Komnas Perlindungan Anak Kordinasi Ke Polres Batu, Disebutnya Korban Dalam Kondisi Ketakutan

  • Whatsapp
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait saat di Polres Batu, Kamis (9/9/21).

Kota Batu, inspirator.co.id – Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait datangi Polres Batu untuk koordinasi terkait perkembangan kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pemilik sekaligus pendiri sekolah SPI Kota Batu berinisial JE, Kamis (9/9/21). Sebelumnya, Arist mendatangi Mapolda Jatim untuk mempertanyakan perkembangan kasus tersebut pada Rabu (8/9/21).

“Secara khusus update kasus terduga JE yang melakukan kejahatan seksual atas informasi, atas perkembangan penyelidikan dari Mapolda Jatim, dan kami menerima informasi juga dari Humas Polda Jatim yang menyatakan kemarin pertemuannya, dikuatkan Ditreskrimum bahwa berkas perkara JE sudah disiapkan untuk diserahkan ke Jaksa,” jelas Arist usai melakukan pertemuan dengan Kapolres Batu, Kamis (9/9/21).

Muat Lebih

Ketua Komnas Perlindungan Anak tersebut menegaskan bahwa, kehadirannya di Polres Batu merupakan bentuk kewajiban untuk berkoordinasi dengan Polres Batu, meski penangganan penyidikan yang dilakukan saat ini berada di Polda Jatim. Mengingat lokus kejadiannya berada di wilayah Kota Batu.

“Tentunya kami punya kewajiban untuk koordinasi dengan Polres Batu, dan kami tadi juga sudah sampaikan ke Pak Kapolres  perkembangannya. Jadi ini sesuatu yang luar biasa, walaupun kita selama ini  mengangap itu lamban. Ternyata ada yang perlu dikuatkan bukti- buktinya,” bebernya.

Selanjutnya, Arist Merdeka Sirait menjabarkan akan melakukan kordinasi dengan Kejari Kota Malang. Ia mengatakan, kemungkinan proses penuntutan perkara akan diserahkan ke JPU Kota Malang, dan bukan di Surabaya. Selain itu, kedatangan Arist ke Polres Batu untuk memberikan apresiasi kepada Kapolres Batu karena sudah menanggani kasus kejahatan dengan baik.

“Tentu kami mengapresiasi Pak Kapolres karna kasus- kasus kejahatan yang ada di Kota Batu ini direspon dengan baik, selain kasus JE,” ujarnya.

Dengan begitu, selanjutnya Komnas Perlindungan Anak akan terus mendukung Kejaksaan Malang supaya cepat menjadi P21, sehingga nantinya sudah bisa dilakukan penuntutan. Sementara itu, Arist juga menyebutkan untuk status tersangka hanya ada satu yakni JE, dan nantinya akan ditingkatkan menjadi empat yang menjadi saksi.

“Nanti akan menjadi 4 yang menjadi saksi, mungkin bukan kasus kejahatan seksual tetapi eksploitasi ekonomi dan kekerasan fisik, sehingga nantinya akan menjadi lima tersangka dengan kasus yang berbeda,” urainya.

Saat disinggung terkait keberadaan JE yang belum ditahan sampai saat ini, Arist menegaskan bahwa ranah tersebut menjadi suatu kewenangan pihak Kepolisian, dan pihaknya menghormati proses hukum yang berlaku.

“Ya keterangan Humas kemarin, karena kooperatif tidak menghilangkan alat- alat bukti dan sebagainya, sebenarnya itu hak diskresi Polisi untuk mengabulkan, apakah perlu dilakukan penahanan atau tidak,” cetusnya.

Sementara terkait kondisi korban, Arist menyatakan kondisi korban saat ini dalam kondisi ketakutan sehingga saat ini dalam pengawasan dan perlindungan LPSK. Pengawasan dan perlindungan tidak dilakukan terhadap korban saja, namun juga terhadap keluarga korban.

“Oleh Karena itu LPSK memberikan jaminan perlindungan kepada 14 pelapor yang sekarang juga menjadi saksi,” tandasnya. (im)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *