Pasar Kota Batu Menjadi Klaster Baru Dalam Penyebaran Covid-19

  • Whatsapp
Klaster Baru : ditemukan satu pedagang di pasar batu positif Covid-19.
banner 468x60

Kota Batu, inspirator.co.id – Pasar Kota Batu telah menjadi klaster baru penyebaran virus Covid-19. Hal ini telah disebutkan oleh Wakil Wali Kota Batu, Ir. Punjul Santoso, seiring dengan penemuan satu orang positif Covid-19, atau pasien ke Sembilan yakni pedagang kelapa yang berjualan di pasar Kota Batu. Seiring hal ini, jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kota Batu bertambah satu.  Adanya tambahan ini, total akumulatif kasus positif Covid-19 di Kota Batu sebanyak 9 orang, yang terdiri atas 6 orang dalam perawatan, 2 orang sembuh dan 1 orang meninggal dunia.

“ Saat ini, pasien ke-9 tersebut telah mendapat penanganan medis. Saya mendapat laporan dari Dinkes Batu pasien ke-9 kemarin, Rabu sekitar pukul 18.00,” ungkap, Punjul yang juga sebagai Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kamis (21/5/2020).

Muat Lebih

Seiring hal itu, Punjul juga mengimbau agar masyarakat yang beraktivitas di pasar, baik pedagang, pembeli maupun yang lainnya, dapat mematuhi protokol kesehatan.

“Tolong patuhi. Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dengan sabun. Itu penting sekali,” tegas Wakil Wali Kota Batu ini.

Punjul mengungkapkan, sebelumnya warga Batu yang positif Covid-19 adalah pedagang yang mobilitasnya keluar kota, namun kali ini trendnya adalah transimisi lokal yang ada di dalam pasar. Meski begitu, Punjul juga mengatakan masyarakat tetap tenang dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Saya bersama anggota DPRD datang ke pasar kemarin. Belum terlihat penerapan jaga jarak fisik atau physical distancing,” bebernya.

Menindaklanjuti adanya klaster pasar, petugas melakukan tes cepat atau rapid test masal di pasar. Tes cepat dilakukan terhadap 313 pedagang pasar pagi. Hasilnya, 4 pedagang reaktif.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Yuni Astuti mengatakan bahwa sejatinya ada 400 pedagang yang akan dites. Dikatakan Yuni, pedagang adalah kelompok yang berisiko tertular Covid-19.

“Diharap dengan tes cepat ini mampu mencegah penularan dan mendeteksi sejak dini tanda-tanda adanya pasien yang reaktif. Mereka yang reaktif wajib isolasi mandiri selama 14 hari,” ujar Yuni.

Hasil reaktif akan ditindaklanjuti dengan tes swab. Namun karena keterbatasan rujukan lab swab maka menunggu setelah Lebaran.

“Sementara ini lab test swab di Malang rujukan Covid-19 ada tiga meliputi RS UB, RSSA, dan Lavalette. Untuk RSSA dan RS UB belum menerima sampai tanggal 26 Mei,” terangnya.

Yuni menambahkan, dalam waktu dekat semua pedagang akan menjalani tes cepat, dan untuk alat tes cepat yang dipesan Dinkes Kota Batu sudah datang 8000 alat. (t1m).

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *