Wakapolda Jatim Apresiasi AKBP Budi Hermanto Yang Mengorbitkan Pahlawan AP Katjoeng Permadi

  • Whatsapp
buku sejarah tentang perjuangan AP III Katjoeng Permadi turut dibagikan dalam acara napak tilas.
banner 468x60

Kabupaten Malang, inspirator.co.id – Dalam kegiatan napak tilas dan upacara  dalam rangka peringatan HUT Korps Brimob Polri yang ke 74,  Wakapolda Jatim Brigjen Djamaludin mengungkapkan bahwa ia sangat mengapresiasi terkait diadakannya kegiatan tersebut.

Menurutnya, napak tilas dan upacara peringatan dapat dikatakan sebagai bentuk penghargaan dan mengenang jasa seorang pahlawan bhayangkara sejati dalam menghalau penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI. Maka dari itu, ia berharap kepada seluruh jajaran kepolisian bisa meneladani semangat juang para pahlawan terdahulu salah satunya ialah AP III Katjoeng Permadi.

Muat Lebih

“Yang perlu kita teladani dari AP III Katjoeng Permadi adalah pengabdian, loyalitas serta dedikasi dalam berjuang. Untuk itu, kita harus bisa mengisi kemerdekaan dengan melanjutkan pengabdian, mengedepankan pelayanan kepada masyarakat, serta terus menjaga keamanan negara yang sudah bertahan hingga saat ini,” ujarnya saat sambutan mewakili Kapolda Jatim Irjen. Pol. Luki Hermawan di Pendopo Kecamatan Pujon, Rabu (6/11/2019).

Brigjen Djamaludin juga menambahkan, keberadaan AP III Katjoeng Permadi dalam menunjukkan kesetiaannya menjalankan tugas sebagai polisi keamanan inilah yang harus kita teladani dalam diri kita masing masing.

“Selain itu, jiwa satria yang memiliki loyalitas dan keberanian sesuai dengan ideologi Polri yang dimiliki oleh AP III katjoeng Permadi inilah yang harus kita terapkan dalam diri kita, dan kita harus meniru serta melanjutkan perjuangan pendahulu kita ini. Untuk itu, saya mewakili atas nama Kapolda Jatim mengucapkan terima kasih kepada AKBP budi Hermanto S.I.K M.Si selaku Kapolres Batu yang lama karena sudah menggagas pahlawan ini,” tuturnya kembali.

Tampak Wakapolda Jatim Brigjen Djamaludin, Satbrimob Polda Jatim Kombes Pol I Ketut Gede Wijatmika, Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama S.I.K M.I.K, Kapolres Blitar AKBP Budi Hermanto S.I.K M.Si beserta jajara usai meninjau lokasi monumen tragedi status quo di samping Kantor Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. 

Di sisi lain, AKBP Budi Hermanto S.I.K M.Si yang merupakan inisiator dan penggagas pahlawan perjuangan AP III Katjoeng Permadi, ia menjelaskan bahwa awalnya ia melihat ada sebuah monumen perjuangan yang kurang terawat di samping Kantor Kecamatan Pujon.

Setelah ia bertanya dan menelusuri ke beberapa narasumber, ternyata monumen dua pria yang mengendong satu pria disamping mobil willyz merupakan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan dari agen kepolisian. Mengetahui informasi tersebut, Buher sapaan akrabnya, langsung membentuk tim kerja untuk menelusuri sejarah mengenai pahlawan tersebut.

“Selain melakukan rekondisi pada monumen tersebut, kemudia saya melaporkan ke Polda Jatim. Setelah mendapat izin kami langsung bergerak menggandeng sejarawan, pustakawan, dan masyarakat sekitar untuk menggali informasi lebih jelasnya mengenai pahlawan kepolisian yang diketahui bahwa ia adalah AP Katjoeng Permadi,” jelas Buher yang saat ini menjabat sebagai Kapolres Blitar.

Ia melanjutkan, setelah mendapatkan seluruh informasi dari berbagai narasumber, ia memerintahkan kepada tim kerjanya untuk langsung membuat video dokumenter pahlawan dan rekan perjuangan tersebut.

Bukan hanya itu, ia juga membuat buku sejarah perjuangan AP III Katjoeng Permadi berlandaskan dari rangkuman seluruh kejadian yang pernah dialami oleh keluarga dan saksi kejadian. Disisi lain ia juga merubah nama jalan menuju Mapolres Batu sebelumnya Jalan Bhayangkara menjadi Jalan AP III Katjoeng Permadi .

Selain doa bersama, kegiatan napak tilas ini juga diisi dengan pementasan drama perjuangan AP III Katjoeng Permadi yang diperankan oleh pelajar SMA Islam Pujon yang menceritakan tragedi status quo sehingga menyebabkan AP III Katjoeng Permadi meninggal. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian tali asih kepada keluarga dan rekan seperjuangan almarhum.

Perlu diketahui, berdasarkan kisah dalam drama teatherikal yang diperagakan oleh pelajar SMA Islam NU Pujon, disitu dijelaskan bahwa AP III Katjoeng Permadi adalah warga Pujon yang baru saja menyandang status pengantin baru. Ia diberi tugas berdasarkan instruksi Jawatan Kepolisian Negara RI untuk menjaga garis demarkasi atau bisa disebut Garis Van Mook yang merupakan hasil perjanjian Renville.

Berdasarkan instruksi ini, pada agresi Belanda ke-II tersebut, polisi berada di garis depan dan berhadapan langsung dengan wilayah Belanda yang saat itu berada di Kota Batu. Pada 18 Desember 1948 tepatnya pukul 23.40 WIB, Belanda mengirimkan telegram yang berisi bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Renvile.

Kemudian pada saat 19 Desember 1948, Belanda bergerak maju dari Kota Batu menuju ke wilayah Pujon, mereka pun melakukan serangan. Satu kompi pasukan dibawah pimpinan Kapten Bosch bergerak dari arah Batu menuju ke Kasembon. Target penyerangan saat itu adalah Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Mendalan, Kasembon.

Tidak hanya kalah persenjataan, Belanda lebih unggul di bidang telekomunikasi, karena itu meskipun malam Belanda sudah mengirim telegram bahwa tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville, pejuang kita tidak ada yang tahu, termasuk Katjoeng Permadi.

Tentara Belanda sengaja tidak melewati jalan utama, namun mereka melewati Batu-Kelet yang berada di Desa Pujon Kidul, Selatan Desa Sukomulyo, yakni Dusun Bian, Dusun Bakir, Melewati kawasan hutan Desa Bendosari, kemudian melewati Kecamatan Ngantang, Dusun Pakan, Banu, Sromo, Selorejo.

Saat itu tentara Belanda menyerang pos status quo yang dijaga Katjoeng. Ia tewas dadanya tertembus peluru musuh, begitu juga dengan rekannya Sujadi. (Zal)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *